Sejarah pembentukan dan perkembanagan wilayah Kecamatan Tanjung Morawa, sebelum kemerdekaan RI Kecamatan Tanjung Morawa terdiri dari berbagai kedaton yang langsung tunduk kepada Kesultanan Serdang yang berpusat di simpang Tiga Perbaungan (Kecamatan Perbaungan) sekarang.
Dalam hal ini asal usul nama Tanjung Morawa menurut beberapa versi antara lain berasal dari kata Belanda, yaitu Tanjung Moravia dimana mengingatkan penjajah Belanda pada leluhurnya di Eropa. Dalam versi lain, kata Tanjung Morawa berasal dari bahasa Karo, yaitu Tanjoung Merawa. Arti merawa yaitu marah, perlawanan/ patriotik pejuang-pejuang bangsa, karena dimana revolusi fisik melawan penjajah Belanda. Tanjung Morawa merupakan daerah perjuangan Medan Area Selatan.
Setelah kemerdekaan RI, maka wilayah Kecamatan Tanjung Morawa terbentuk sebanyak 23 desa dan selanjutnya sekitar tahun 1979 salah satu desa yang ada di Kecamatan Tanjung Morawa ditunjuk sebagai kelurahan dan ditetapkan ibukota kecamatan yaitu Tanjung Morawa Pekan.
Kecamatan Tanjung Morawa terletak pada 03 30 dan 11 60 LU serta 98 46 dan 103 83 BT.
Luas Wilayah Tanjung Morawa lebih kurang 13.175 Ha, dengan ketinggian 30 meter dpl.
Batas-batas wilayah
Sebelah Utara : Kec. Batang Kuis dan Kecamatan Beringin
Sebelah Selatan : Kec. STM Hilir
Sebelah Barat : Kec. Patumbak, Kec. Percut Sei Tuan & Kota Medan
Sebelah Timur : Kec. Lubuk Pakam dan Kecamatan Pagar Merbau
Kecamatan Tanjung Morawa -Deli Serdang terletak di dataran rendah, yang terdiri dari berbagai suku bangsa antara lain : Melayu, Karo, Simalungun, Toba, Mandailing, Jawa, dan lain-lain yang pada umumnya memeluk agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.